Kembangkan Bakat Kepenulisan Mahasiswa, media nusaider.com Gelar Pelatihan Jurnalistik di kampus STIT Aqidah Usymuni Sumenep
Terbit: 24 December 2025
Terbit: 24 December 2025
Media nusaider.com menyelenggarakan sekolah kepenulisan di kampus STIT Aqidah Usymuni Sumenep tepat pada Senin (22/12/2025). Hal ini tentu menjadi suatu kehormatan bagi pihak kampus sebagai media yang mampu membantu menggali potensi anak didiknya. Selain dari kampus Stita sendiri, ada banyak mahasiswa luar yang ikut belajar bersama terkait dengan dunia jurnalistik.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Menulis, Mengolah Pemikiran, dan Membangun Peradaban”, yang tentu memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk menjamurkan minat dan pemahaman yang mendalam terkait teori dan pentingnya menulis bagi insan yang diberi keiistimewaan berpikir oleh Allah. Terlebih di era yang serba mengangungkan AI ini budaya literasi nyaris hilang dari dunia mahasiswa.
Dalam penyampainya, pemateri, Febry Al Mabruri menekankan bahwa stiap manusia sangat potensial untuk melahirkan karya tulis. Namun potensi tersebut sangat bergantung pada sejauh mana seseorang memperoleh pengetahuan dan memperkaya perbendaharaan kata dengan membaca, lalu menuangkanya dalam bentuk tulisan.
Setiap dari kita memiliki potensi untuk menulis. Besarnya potensi itu sangat bergantung pada apa yang kita serap dan bagaimana kita menuangkannya menjadi untaian karya tulis,” ujar Febry saat memotivasi peserta di sela-sela materinya, Senin 22 Desember 2025. ia juga menyampaikan pernyataan yang cukup tegas untuk menggugah kesadaran literasi peserta. “Orang yang membaca, tetapi tidak melahirkan tulisan, berarti dia gila,” tegasnya.
Menurut Febry, pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai kritik terhadap kebiasaan membaca tanpa proses refleksi. Seseorang yang membaca namun tidak menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, lanjut dia, ibarat hidup tanpa makna karena pengetahuan yang diperoleh tidak diolah dan tidak memberikan dampak. “Lebih parah lagi jika ada orang yang menulis tetapi tidak membaca, itu sama dengan orang gila kuadrat. Karena ia menulis tanpa pandangan dan rujukan yang kuat, sehingga tulisannya berpotensi tidak berkualitas dan jauh dari kebenaran,” imbuhnya. Lebih lanjut, Febry menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, melainkan proses berpikir kritis, mengolah gagasan, serta membangun kesadaran intelektual.
Melalui tulisan, kata dia, seseorang dapat berkontribusi dalam membangun peradaban dan menyampaikan nilai-nilai kebenaran kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Miftahul Arifin, Ketua Panitia Workshop Jurnalistik, menyampaikan bahwa kegiatan Sekolah Kepenulisan ini merupakan bagian dari komitmen nusainsider.com dalam meningkatkan minat baca dan tulis di kalangan mahasiswa. “Kegiatan ini kami gagas sebagai ruang belajar bersama agar mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga mampu menuangkan gagasan kritisnya dalam bentuk tulisan yang berkualitas,” ujarnya.
Selain itu, Miftah sapaan akrabnya menambahkan bahwa sekolah kepenulisan ini diharapkan mampu melahirkan penulis-penulis muda yang berintegritas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik, khususnya di era digital yang penuh dengan arus informasi instan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, nusainsider.com berharap budaya literasi di lingkungan kampus semakin tumbuh dan menjadi fondasi lahirnya generasi intelektual yang mampu berpikir tajam serta berkontribusi nyata bagi masyarakat,” Tutupnya.